TENTANG MANUSIA
Dari Pemikiran, Pemahaman, sampai dengan
Perdamaian Dunia
karya Reza A.A Wattimena
Pendahuluan: Tentang Manusia
Satu hal yang tak terbantahkan: manusia adalah mahluk dominan di bumi ini. Buah karyanya telah mengubah wajah dunia. Ini semua menjadi mungkin, karena manusia mampu bekerja sama dengan berpijak pada prinsip-prinsip yang rasional. Kerja sama yang erat ini tidak hanya membuat mereka kuat, tetapi juga berkembang melampaui batas-batas fisik mereka sendiri.Lima ratus tahun yang lalu, orang hanya bisa hidup sampai dengan usia 30 atau 40 tahun. Namun kini, di usia yang ke 65, orang masih tetap bisa hidup dengan sehat. Bentuk kehidupan sosial manusia pun kini makin kompleks, misalnya dengan keberadaan internet dan jaringan sosial yang mengubah seluruh makna hubungan antar manusia. Patah hati dan revolusi politik kini bisa dipicu hanya dengan satu ketikan di jaringan sosial internet.
Dominasi manusia atas bumi ini juga memiliki wajah yang kelam. Ratusan spesies punah setiap harinya, akibat ketidakseimbangan alam. Atmosfer dunia rusak, akibat polusi yang diciptakan oleh asap industri dan aktivitas sehari-hari lebih dari 6 milyar manusia di bumi ini. Perlahan tapi pasti, bumi menjadi tempat yang tidak cocok untuk lahir dan berkembangnya kehidupan.
Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Tentang manusia dan kehidupannya, filsafat dan ilmu pengetahuan telah menggunakan berbagai metode untuk memahaminya. Di sini, manusia dipahami sebagai mahluk yang berakal budi. Dengan akal budinya, manusia mampu bekerja sama, dan kemudian mewujudkan visi hidup mereka menjadi kenyataan.
Tidak hanya akal budi, manusia juga adalah mahluk emosional. Mereka mampu merasa, dan bertindak dengan berdasarkan perasaannya itu. Mereka juga mampu merasakan kasih kepada manusia, mahluk hidup dan bahkan benda mati lainnya. Perpaduan antara akal budi, emosi dan kerja sama menghasilkan peradaban manusia beserta segala kompleksitasnya.
Di satu sisi, manusia adalah mahluk individual. Ia memiliki perasaan dan pikiran yang hidup serta berkembang di dalam kehidupan pribadinya. Di sisi lain, ia adalah mahluk sosial. Identitasnya ditentukan dalam hubungannya dengan dunianya.
Martin Heidegger, filsuf Jerman, mencoba menanggapi secara kritis konsep ”manusia” yang berkembang di dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Kata ”manusia” sebenarnya mengandaikan adanya pemahaman tertentu sebagai latar belakangnya, yakni pemahaman yang khas tertanam di dalam filsafat Barat yang dipengaruhi filsafat Yunani dan agama-agama monoteis, seperti Yahudi, Kristen dan Islam. Bagi orang yang tidak lahir di dalam peradaban semacam ini, konsep ”manusia” dipahami secara berbeda.
Oleh karena itu, Heidegger mencoba menghindari penggunaan kata ”manusia” di dalam tulisan-tulisannya. Ia memilih menggunakan kata Dasein, yang berarti ”ada di sana”. Di dalam filsafat Jerman, ini disebut juga sebagai destruksi metafisika, yakni mencoba mengajukan ulang secara kritis dan mendalam pertanyaan tentang ”Ada” (Sein). Pola berpikir ini nantinya berkembang di dalam pemikiran pasca modernitas, misalnya di dalam pandangan Derrida tentang dekonstruksi yang mencoba menunda beragam kepastian pemahaman (Sinnsverschieben).
Filsafat Timur, yang berkembang di Nepal, India, Cina, Jepang dan Korea, memiliki pemahaman yang sama sekali berbeda tentang manusia. Manusia tidak dilihat sebagai mahluk istimewa, tetapi sebagai bagian tak terpisahkan dari segala hal yang ada di alam semesta ini. Sama seperti segala hal lainnya, manusia adalah cerminan dari jiwa universal yang disebut juga sebagai Atman. Di dalam beberapa tradisi, seperti tradisi Zen, manusia tidak dijadikan konsep, dan bahkan tidak dibicarakan sama sekali.
München, Januari, 2016
Reza A.A Wattimena
selengkapnya silakan unduh pada link berikut : klik disini
Komentar
Posting Komentar