Pertempuran Surabaya
Tanggal 27 Oktober – 20 November 1945 (3
minggu dan 3 hari)
Lokasi Surabaya, Indonesia
Hasil Britania menang secara
militer/taktis.
Indonesia menang secara strategis, politik, dan psikologis.
Britania perlahan berhenti membantu Belanda mendirikan kembali
koloninya di Indonesia dan menjadi netral. Britania kemudian mendukung perjuangan
kemerdekaan Indonesia.
Pihak terlibat Indonesia, PETA (sisa-sisa), Britania Raya, India
Britania
Tokoh pemimpin Moestopo,
HR Muhammad, Soengkono,Sutomo, A.W.S. Mallaby †, Robert Mansergh
Kekuatan
20.000 tentara infanteri (rata-rata mantan perwira dan prajurit
PETA)
100.000 personel milisi (rata-rata anggota Pemuda Rakyat)
30.000 (terbanyak)
dengan bantuan tank, pesawat, dan kapal perang
Korban
6.000–16.000 tewas; lebih dari 20.000 luka-luka 600-2.000tewas; lebih dari 2.000
luka-luka
Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran tentara dan milisi
pro-kemerdekaan Indonesia dan tentara Britania Raya dan India Britania.
Puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran ini adalah perang
pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi
Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia
terhadap kolonialisme. Usai pertempuran ini, dukungan rakyat Indonesia dan dunia
internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat. 10
November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan di Indonesia.
Kronologi penyebab peristiwa
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan
tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah
tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan
tanpa syarat tersebut, Pulau Jawa secara resmi diduduki oleh Jepang.
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu
setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima tanggal 6
Agustus 1945 dan Nagasaki tanggal 9 Agustus 1945. Peristiwa itu terjadi pada
tanggal 14 bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing
tersebut,Soekarno kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal
17 Agustus 1945.
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia
berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran
yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan
Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di
Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara
Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands
East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk
melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang,
serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris
yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi
pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands
Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris
untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan
pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan
pemerintahan NICA.
Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus
1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka
Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran
bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan
pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato
Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman
kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman
pada malam hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan
bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah
Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945
meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris .
Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum
yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris,
sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk
meredakan situasi.
Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara
Inggris ditandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur
mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata
antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata
di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby,
(pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul
20.30.
Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia
yang paling dihormati. Selain Bung Tomo terdapat pula tokoh-tokoh berpengaruh
lain dalam menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu, beberapa datang dari
latar belakang agama seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta
kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan
masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak
begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para
kyai/ulama) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung alot, dari hari ke
hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya
dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur.
Pertempuran ini mencapai waktu sekitar tiga minggu.
Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban
pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik
Indonesia hingga sekarang.
Komentar
Posting Komentar